Pengantar Kisah dibalik Menghafal Qur’an


Selalulah berniat untuk menghafal Qur’an 30 Juz dalam hidup, semoga nanti meskipun kita mati dalam keadaan belum sempat menghafalnya, kita tetap ┬ádibangkitkan bersama para penghafal Qur’an

(Imam Mesjid Al-Muttaqien, Pulomas)

Akhir Juli, pas tanggal 24 Juli 2017, ada email yang meminta saya untuk segera melunasi biaya pendaftaran dan semester fee qur’an memorization program di Islamic online univesity, Waw? Ko bisa secepat itu? Apa ini? AKu belum siap… Bukankah kelas mulai di Bulan Februari 2018? Hmmm

IOU.JPG
Ini email yang datang buat jadi reminder saya

 

Fine! Ini cerita soal perjalanan saya kuliah di Islamic Online University, tepatnya kelas hafalan sih. Tapi kan awalnya emang mau kuliah S2, tapi karena berbagai alasan yang panjang kita akhirnya sampai ke sini. Sebenernya sudah Qadarullah nya aja.

Alright, aku cerita darimana ya, hmmm begini deh kerangkanya, cerita cepatnya… :

1. Saya niat buat S2, tapi waktunya kapan? dimana? jurusan apa? biayanya gimana?
2. Saya niat S2 di UI, tapi per-semesternya 21 juta untuk jurusan tehnik Industri, saya belum sanggup!
3. Saya niat S2 di UIN, tapi enggak ada pendidikan Islam kelas malam & akhir pekan
4. Ada S2 di Universtitas Muhammadiyah Jakarta, Tapi jurusannya komunikasi, tidak ada pendidikan Islam.
5. Di UI, ada jurusan pendidikan Islam, tapi tidak ada kelas khusus. Artinya saya harus berhenti bekerja. Beasiswa juga sama, hanya untuk mahasiswa reguler. Sementara saya harus tetap bekerja, keluarga juga kewajiban.

*Intinya kuliah di UI kalau jurusan agama Islam, belum ada kelas eksekutif. Kuliah di UI yang memungkinkan adalah tehnik Industri, jadi nyambung sama kerjaan. Tapi per-semester nya 21 juta! Dan tidak ada beasiswa untuk kelas khusus.

6. Searching kuliah online, saya dipertemukan Allah dengan Islamic Online University (IOU).
7. Sebelumnya ada juga kuliah online setara LIPIA : Hufadzussunnah di pasar minggu. Tapi hanya S1.

8. Di IOU Saya Apply S2, tapi syaratnya harus S1 nya lulusan pendidikan Agama Islam juga, untuk yang S1 nya non jurusan itu, harus ikut kelas persiapan, 2 semester.

9. Karena hafal qur’an juga diarasa tujuan hidup juga, saya pilih ikut kelas ini.

10. Supaya bisa langsung masuk kelas S2 tanpa kelas persiapan, saya bisa nyoba prepare dokumen madrasah aliyah & surat keterangan pendah mondok. Surat keterangan mondok? Wah, saya tidak ada.

11. Karena ada kendala finansial dan mastiin apakah kelas online efektif, saya pilih kelas tahfidz qur’an dulu. S2 nya ditunda dulu untuk tahun ini.

12. ternyata ada beasiswa juga untuk kelas tahfidz, dengan syarat saya tidak mampu membayar kelas, saya sempat dikirim formulir, tapi saya batalkan, pasti ada yang lebih membutuhkan, Insya allah saya bisa

13. Saya kirim uang semester fee, 1,2 juta’an untuk 1 semester, di 26 Juli, 25 Juli ATM sistem error jadi saya tidak bisa kirim.

14. 5 Agustus kelas dimulai, siang hari saya nyimak di mesjid al-amin. Indonesia dan Qatar beda 4 jam, jadi disana jam 6, di Indonesia jam 10. Saya terlalu kerajinan udah mulai online dari jam 10, padahal kelas mulai jam 11, saya salah melihat jam kelas.

15. 6 Agustus, Waktu itu saya niat nyuci motor aja di sekitaran UNJ, karena beresnya isya’, akhirnya saya dipertemukan Allah dengan mesjid Al-Muttaqien, sebenernya dah lama pengen ke mesjid ini, sejak dulu mengundang Imam dari Palestina di awal Ramadhan. Hari itu saya mulai shalat di mesjid al-muttaqin, ternyata disana ada kelas tahfidz juga setiap rabu malam

16. Saya tidak bisa ikut kelas ke 2-5, detailnya ada di email saya ke ustadz taher awad, seperti berikut :

Capture
Detail email alasan mengenai ketidak kehadiran saya & feedback untuk kegiatan

17. Minggu ke 2 agustus, alhamdulillah saya sudah bisa menghafal (ulang) surat annaba, hari ahad dan senin, 30 ayat, saya setorkan di tanggal 9 agustus

18. Selanjutnya ada kesibukan lain, hari rabu 16 agustus saya setorkan annaba 15-40, lalu al-insyiqaq & alburuj

19. Hafalin allail masih lupa-lupa ingat, lanjut nama-nama surat dan jumlah ayatnya di juz 30 + artinya.

20. Lanjut coba hafalin annaziat, 1-20, start kemarin, 17 agustus, tadi pagi mau mulai lagi tapi kepala sakit, jadi milih istirahat di kostan.

Udah, mungkin begitu cerita cepatnya, mudah-mudahan nanti bisa buat versi detailnya, hehe

agak narsis nih kayanya tulisannya? Hmmm… Let’s see lah, untuk informasi ini contoh tampilan kuliah online :

Halaman Class.JPG
Contoh jadwal kelas, yang udah beres bisa di download biar ga ketinggalan pelajaran
halaman-menu-awal.jpg
Ini contoh tampilan pas masuk buat log in

Sekian & Terima Kasih ­čśë

Sudah, Jangan Banyak Mikir! Ayo Mulai!


Akhir-akhir ini badan sering sakit, setelah kemarin sakit leher, lanjut sakitnya lari ke perut, lanjut ke klenjar getah bening yang bengkak, sekarang lari ke pusing, alhamdulillah nya, ga ada penyakit yang parah. Hanya sempat libur kerja di tanggal 15 agustus karena lemas juga badan rasanya.

Banyak yang ingin ditulis, mesjid-mesjid di sekitar rumah, keseharian bareng  Najmi, curahan hati atau nulis sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat, membuka tabir yang buat seseorang masih tertutup. Hanya membukakan, karena beberapa orang kadang tetap tidak bisa melihat meski terbuka lebar.  Atau mungkin menulis sesuatu yang technical?

Kata Aa Gym, jangan terlalu fokus pada traffic atau trending, hanya share yang bermanfaat aja. Jadi baik aja, gak usah cari popularitas dan pujian. Allah selalu baca. Di sisi lain, ada perempuan yang menulis baru 10 posting, dengan puisi-puisi mengharu biru dan pembacanya sudah banyak yang ngomen. Mungkin 10 Orang ­čśÇ haha, buat saya itu banyak ­čśÇ Karena itu tidak terjadi dengan blog saya, haha.

Ya sudahlah, seperti di youtube aja, orang yang serius bikin blog, yang banyak jadi trending malah blog tanpa subject, ga jelas siapa yang mejeng dan gak jelas ceritanya. Begitulah, hal yang trend kadang tidak sejalan dengan yang berkualitas. Pfft… jadi blog saya berkualitas? gitu? haha… entahlah. Sok serius.

Seringkali saat mau nulis, cuma mau nulis tapi gak tahu mau nulis apa. Jadinya gak fokus! oke.. saya mau nulis soal proposal pondok tahfidz dan kitab kuning yang ingin diinisiasi. Plus pengalaman tahfidz. To share, and bring the real.

Banyak cerita yang kadang di share kurang real, kurang detail, masih menyimpan rahasia. Saya ingin buat cerita yang lebih real, ayolah nulis. Dari kemarin cuma mikir terus… let’s act. Jangan cuma menuhin menu kontemplasi sendiri terus. Lebih banyak lah berkarya jangan hanya melamun.

Tulisan saat 2 Jam Kepala Kosong


Najmi, ada yang lucu dengannya pagi ini, memaksa ingin nonton skip to my lou di handphone ibunya tapi gak saya kasih soalnya takut jadi keasyikan nonton handphone, dia lari keluar. aku fikir berhasil lah dia pasti mau main, tapi yang terjadi dia malah datang bawa kursi segede gaban dari luar, buat apa? dengan polos dia bilang, mau ambil handphone… kekeh nya…

Ketika tadi bersemangat menulis, maka kali ini semangat itu seperti menguap dan entah harus seperti apa lagi, sempat ingin menulis untuk merangkum ceramah Aa Gym tapi malah malas. 17 Agustus udah datang, tapi mau jam 10 masih di kamar aja, gak hadir di upacara, gak mencari perlombaan. Ah, malas… malas…

Hei, Sekilas info : Najmi udah bisa mengenal dan menyebut warna red & yellow, alhamdulillah.

Ya, merangkum ceramah seperti nya akan lebih bermanfaat daripada cerita galau atau memikirkan problematika hidup yang ta berujung ini, haha. Tapi pengen juga merenung lagi, entah soal apa.

Mungkin tentang menulis Seperti ini? mendalami jiwa secara mendalam, memahami diri lebih baik. Tapi, khawatir juga bahwa tulisan tidak akan mengubah apa-apa, karena ada pendengar radio dulu di pasar tipar gede, dia penjual bubur ayam yang sering menulis puisi dan mencoba memahami jelaga hatinya tapi tetap seperti biasa aja hingga sekarang, hingga akhirnya dia berhenti menulis lagi. Katanya dia menulis di fesbuk sekarang.

Entahlah, mungkin bulan depan harusnya saya beli TV, najmi suka nonton hape
sambil tiduran, takut rusak matanya.

Ada 2 ide lagi yang mungkin nanti bisa direalisasikan : Buat novel & cerita seperti Buya Hamka dengan tenggelamnya kapal van der wijck & dibawah lindungan kakbah, atau menulis cerita tentang pengalaman saat menghafal Qur’an. Lagipula masih banyak kategori-kategori kosong di blog yang harus diisi.

Renungan Tiga Hari Dua Malam


Selamat sore menjelang pulang, dan hari kerja berakhir lagi seperti biasa, memanjakan kami, para pegawai-pegawai kantoran, penggali tanah, operator pabrik, pegawai admin, para manager, cleaning service dan penulis belum laku untuk bisa kembali pulang, melanjutkan cerita bersama keluarga yang sempat tertunda pagi tadi.

Cerita menarik apa lagi dari hari ini yang bisa kami bagi untuk kelak nanti bisa disandingkan, indah saat dipertanggung jawabkan dan lebih bermanfaat bagi masyarakat? Selain tetap bekerja dengan baik, mengoptimalkan diri untuk bisa bermanfaat lebih baik buat orang lain.

Soal manfaat, awalnya saya fikir menjadi pekerja ya hanya bermanfaat buat pabrik, memang apa lagi? Tapi setelah dijalani, saya mulai menyadari bahwa ada manfaat-manfaat lain selain itu.

Manfaatnya? Seperti kehidupan sosial di tempat lainnya, berbuat baik di area pabrik juga bisa berarti memberi teladan yang baik buat orang lain. Khususnya untuk mereka yang berada di antara tim manajerial, perbuatan positif mereka seperti kedisiplinan, kepemimpinan, kejujuran, akan menjadi inspirasi dan motivasi buat yang lain, seperti bawahannya, Rekan kerja pada satu departement maupun  rekan kerja yang lain (beda departement, beda office, beda plant, dsb).

Bekerja… ngomong-ngomong soal kerja, apakah bekerja itu penting? Haruskah bekerja itu 8 jam sehari? Berapa idealnya bekerja dalam sehari? Pernah nanya gitu gak sih?

Ada orang yang menganggap bahwa orang sukses itu bekerja dengan rata-rata 12 jam sehari, ada juga ulama yang berpendapat bahwa cukup bekerja untuk dunia itu selama 4 jam saja sehari. Sisa waktunya bisa dipakai untuk ibadah dan menulis kitab.

Begitukah, seharusnya, aku, hidup? Jika bekerja 4 jam dan beribadah selama 8 jam adalah target hidup, maka rasanya ingin sudahi saja bekerja ini. Tapi kadang ingat juga bahwa bekerja pun ibadah. Karena bekerja juga berarti berikhtiar untuk menjamin financial security untuk keluarga.

Jadi? Apa harus saya berhenti bekerja dan memulai pembalikan rasio 4:8 ini?

Untuk bisa bekerja 4 jam sehari Saya harus yakin bahwa Allah akan tetap menjamin rezeki saya meskipun saya mengurangi jam kerja saya dan mengganti profesi saya, dan pada hal ini saya belum yakin. Bukan pada pertolongan Allah, tapi belum yakin bahwa aku cukup sholeh hingga dapat jaminan saat diri tidak bekerja lagi. Belum jadi ulama yang ga bekerja di pabrik, tapi dapat gaji lebih besar, dan belum cukup sabar saat tidak punya uang.

Entahlah dari mana saya harus memulai,  sementara hidup dalam keraguan pada akhirnya malah menjerumuskan pada pemborosan bukan? Pemborosan apa? Pemborosan waktu, karena tidak ada keputusan yang diambil dengan yakin. Kata Aa Gym kan gitu, kita harus punya sasaran, target, visi agar hidup ini efisien mau kemana arahnya. Seperti bermain panah, sudah itu kita fokus dan istiqamah.

Maka aku harus berjalan pada keyakinan, keyakinan semacam apa? Apa ini sebuah keyakinan… : Menjamin financial security buat keluarga juga adalah sebuah ibadah. Aku ada kewajiban yang harus diselesaikan yang membuat saya harus bertahan pada pekerjaan dan rutinitas ini. Jika berganti pekerjaan sekarang dan mengubah profesi saya. Jadi lebih berbakti sama masyarakat misalnya, lebih banyak mengajar misalnya,

Entah, apa masa seperti ini harus dihadapi sampai 6 tahun lagi. Semoga Allah segera mempercepatnya. Belajar, membaca, menulis, menghafal dan terus meminta pertolongan adalah jalan yang saya pilih daripada harus menambah jam kerja dengan berbisnis.

Saya ingin punya pesantren. Memulai membimbing masyarakat di usia 28 seperti Aa Gym. Ini yang membuat saya ingin melepas pekerjaan saya, lalu sudahlah berbakti pada masyarakat, pagi mengaji dan mengajar hingga dhuha. Dhuha mandi dan beraktivitas entah ternak ikan, ternak ayam, bersawah, berkebun atau menulis hingga dzuhur. Lalu istirahat siang hingga ashar, lalu mengajar mengaji hingga maghrib, dzikir hingga jam 8, lalu mengajar ngaji lagi hingga jam 10. Lalu tidur hingga jam 3, lalu tahajud hingga subuh dan terus berulang.

Membaktikan diri untuk ibadah dan mendidik masyarakat menjadi seperti sebuah mimpi indah dimana saya bisa bahagia dunia dan akhirat. Tapi, jika saya berangkat sekarang dari tempat saya duduk ini.

Maka 1. Saya khawatir saya belum bisa seistiqamah itu, bisa jadi saya malas tahajud, malas shalat dhuha, bingung mengajar, salah mengajarkan, dsb. dsb.

Ah, saya juga bingung apa kekhawatiran ini layak dipertimbangkan atau tidak. Apa saya harus bertanya pada guru saya atau tidak. Atau saya harus nekad saja?

Percaya bahwa rezeki pasti ada dari Allah SWT tanpa harus dikhawatirkan. Biar saya ikhtiar sederhana, pasti rezeki datang, apa begitu?

Pertanyaan inilah yang akan menjadi bekal saya bertanya pada guru saya dan sepertinya jawabannya pun sama, ambigu dan sepertinya sama lah seperti pilihan saya : Tetap bekerja seperti ini hingga usia 34 tahun.

Ada ustadz bilang, senyaman apapun hidup, apapun profesi yang kita jalani, masalah akan tetap ada. Hilang satu masalah, akan datang masalah yang lain, bahkan kadang lebih berat, lebih besar. Jadi, bukan masalahnya yang kita khawatirkan. Kata Aa Gym juga, khawatirkan kita yang salah menjawabnya atau salah cara menjawabnya. Karena jika benar, Allah akan yahdii qalbahu.

Saya ingin mobil memang, tapi saya tidak confidence bisa dapat mobil di usia 34 tahun. Dengan penghasilan saya sekarang, apalagi kalau saya tidak kuat bekerja seperti sekarang dan ternyata lebih memilih untuk pulang kampung. secara statistikal saya ga akan dapat mobil, dan saya tidak kecewa. Dan saya tidak mau berharap karena mungkin itu akan mengecewakan saya.

Saya sudah bersyukur beberapa mimpi sudah terwujud, lagipula entah akan hidup berapa lama lagi. Lagipula, mobil belum tentu membuat kita lebih baik. Dan ya berharap yang lebih baik saja. Allah maha tahu cara mengabulkan mimpi-mimpi kita, tidak harus ada tapi merasa puas saat itu tidak datang pun adalah rezeki.

Kewajiban demi kewajiban yang masih panjang inilah yang seharusnya membuat saya tetap semangat untuk bisa tetap bangun dan bekerja tiap hari. Meskipun bekerja untuk sebuah kewajiban bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Katanya temukan passion biar kerja itu nikmat. Masalahnya beberapa passion belum menghasilkan uang, seperti inilah : menulis.

Tapi tersenyumlah karena mungkin ini manfaat yang bisa kamu berikan, kamu tidak bisa memiliki murid yang ceria, ilmu yang bermanfaat banyak, tapi kita memiliki anak dan istri yang hidup cukup, bisa beli baju sesekali, di rumah ada sabun untuk mandi, tinggal di rumah dekat tempat kerja, orang tua yang tersenyum sedikit lah, meski ga bisa jamin 100%, mertua yang bisa tersenyum simpul dan yah.. mudah2an bisa ada sedikit dana buat buka pesantren dan toko kecil di tahun 2023.

Entah, saya berapa lama lagi bisa survive di pabrik. Udah 7 tahun berasa udah 70 tahun. Saya lelah dengan target, improvement, saya udah tahu dan saya rasa cukup. Saya pergi, tak apa… ada banyak insinyur yang mengantri untuk posisi saya, selalu begitu setiap tahunnya.

Jadi, ya gitu… tetap pada rutinitas dan bertahan pada frekuensi ini hingga 2023, 34 tahun. Sambil terus mengaji, menulis, memahami hidup, mempersiapkan diri. Sambil berdo’a semoga inilah jalan terbaik dan seharusnya.

34 tahun, saya berhenti bekerja, lalu menjual rumah saya, sampai laku lah, tak harus 2023 sebenarnya, lalu mulailah saya usaha. Andai range nya sama, ya dapat penghasilan mungkin… entah, aku ingin berhenti berhubungan dengan angka. Dan apakah bisa? entahlah… haha

Apa sampai kapan aku berfikir tanpa dalil seperti ini? apa mungkin aku bisa menghafal qur’an? Apa mungkin aku bisa mengubah kebiasaan menjadi lebih baik? Apa mungkin aku bisa menjadi manusia yang lebih baik? Dan rasanya itu tidak bisa dibuat dengan kata : lihat saja!

Lihatlah, tahun demi tahun berlalu, udah 10 tahun lepas dari masa SMA, 4 tahun kemudian aku lulus kuliah di 2011, sudah 6 tahun aku melalui hidup sebenarnya. Udah banyak variasi hidup. GSI, 3 tahun, improve jadi tangerang 1 tahun, dan Batam 3 tahun, dan alhamdulillah sekarang ya beginilah.

Episode lain tentang hidup… 6 tahun itu setara zaman SD, dinikmati masa demi masanya, entah tahun depan jadi apa, ada apa, masih hidup ga?

Hanya sebuah cerita berbagi kontemplasi jangka pendek. Hanya mengikuti pesan Ust. Adi Hidayat : Tahajud, Shalat TBM (Tepat waktu, Berjama’ah di Mesjid) + Shalat Nafilah dan hafalin Qur’an. Insya Allah nanti ada jawaban. Jikapun nanti datang, kita tulis lagi disini, Insya Allah.

Family Financial Management


Mengenai definisi secara bahasa dan istilah yang lebih ilmiah mengenai apa itu family financial Management, mungkin bapak-ibu bisa browsing di google ya, baik itu secara bahasa maupun istilah. Disini saya hanya dapat menjelaskan secara singkat bahwa Family Financial Management ini adalah sebuat metode untuk mengatur keuangan keluarga.

Tujuannya agar keluarga kita bisa lebih teratur dalam mengelola keuangannya, membantu tercapaianya setiap cita-cita keluarga dan menghindari dari berbagai permasalahan keluarga, termasuk menghindari diri dari keinginan yang justru malah menyulitkan kondisi keuangan keluarga.

Mengapa kita harus mengatur keuangan keluarga? Untuk alasan syar’i mungkin bapak ibu bisa bertanya pada asatidz yang lebih kompeten ya, tapi secara logis dan praktis, menurut saya pribadi, metode ini akan cukup bermanfaat untuk menghindari diri dari pemborosan-pemborosan/kemubadziran yang biasanya tidak kita sadari pada saat penggunaan keuangan keluarga.

Keuntungan kedua, Kita bisa mengatur keuangan secara adil dan proporsional. Adil berati keuangan bisa kita atur sebagaimana mestinya sesuai dengan teori maupun prinsip yang bapak-ibu yakini.

Misalnya, ada beberapa buku tentang ekonomi keluarga yang menyarankan bahwa seharusnya keuangan keluarga itu dibagi menjadi 3 posko : 1. Posko Konsumsi, 2. Posko Investasi dan 3. posko Charity.

Mengenai cara pembagiannya, ada yang membagi rata menjadi 3, ada yang ingin lebih unggul di posko ketiga, ada yang ingin lebih unggul di posko kedua, ada yang karena kesulitan ekonomi, hanya bisa 1 posko. Ini tergantung keadaan dan keyakinan bapak-ibu ya.

Hanya saja ada seorang pakar ekonomi yang menyarankan idealnya dibagi 30,30,40, misalnya gaji bapak ibu 10 juta, maka yang 3 juta bapak ibu gunakan untuk konsumsi seperti sandang, pangan & papan, termasuk tabungan untuk jalan-jalan tahunan, keperluan pakaian lebaran, tabungan untuk DP mobil, DP rumah dan sebagainya. 3 juta kedua bisa bapak ibu alokasikan untuk investasi misalnya tabungan hari tua, tabungan untuk pembelian tanah, pembelian reksa dana, menabung emas, bisnis saham, nyoba usaha forex, dsb. Sedangkan 3 juta terakhir bisa ibu pakai untuk zakat mall, nafakah orang tua, biaya pendidikan keluarga, tabungan pendidikan anak, tabungan haji, sedekah ke anak yatim, wakaf untuk pembangunan mesjid, dsb.

Pada beberapa kondisi kadang ada yang kesulitan untuk mengatur keuangan dengan posko-posko tadi, misalnya ada yang gajinya di bawah UMK, yang hanya untuk makan sehari-sehari saja udah susah. tentu saja, itu bukan jadi alasan untuk tidak mengatur keuangan. karena keuangan itu ada prinisip seperti ini : kita atur saja kadang jadi sangat bernatakan apalagi kalau tidak kita atur.

Ada juga ulama yang berpendapat, kalau memang uang kita banyak sisanya, udah infakin aja dari awal. Insya Allah, Allah akan menggantinya dengan lebih banyak. Misalnya, kita gaji 9 juta, sementara kebutuhan kita rata-rata hanya 3 juta, maka udah aja yang 6 juta kita infakin dari awal. Insya Allah, Allah akan ganti. Nah, jika bapak-ibu juga terbiasa dengan hal ini, maka bisa tetap dilanjut juga manajemen finansial nya bukan untuk mengukur seberapa banyak jumlah infak yang sudah kita keluarkan – karena menurut ulama, seharusnya kita berinfak seperti angin, sudah lewat aja – Tapi untuk memastikan bahwa nafkah keluarga kita juga tetap teratur dan dipastikan ketersediannya. Karena memenuhi nafakah keluarga juga ibadah yang wajib adanya. Wallahu a’lam. Saya lebih hati-hati dalam membahas hal ini, alangkah baiknya jika ditanyakan kembali kepada asatidz yang lebih kompeten.

Baik bapak-ibu, sebelum saya akhiri sessio ini, kembali pada manfaat dari mengatur keuangan keluarga adalah mencegah diri dari keinginan yang menyulitkan. Apa itu? yaitu keinginan yang melebihi kemampuan kita, apalagi kalau keinginan itu kita sandarkan pada diri kita sendiri. Memang secara hakikat tak boleh berhenti kita berharap pada Allah Sang Maha Pemberi Rezeki, namun secara ikhtiar, ada baiknya cita-cita kita disandarkan pada kemampuan kita dengan menghindarkan diri dari keinginan yang menyulitkan, misalnya berhutang diluar dari batas pendapatan yang biasanya bisa kita sisihkan, atau keinginan yang pada akhirnya malah membuat keuangan keluarga jadi tidak stabil, misalnya posko islami dan konsumsi menjadi “terkorbankan”

Wallahu a’lam.

Soal where, dimana? karena yang kita mau manage adalah keuangan keluarga,
tempat yang paling bagus menyusunnya, ya di rumah ­čÖé

Secara waktu, memang harus ada waktu yang disisihkan sekitar 30 menit setiap
harinya untuk mencatat keuangan kita dan mengkategorikannya sesuai posko
yang telah kita define sebelumnya. Pun kita perlu waktu dan diskusi bersama
keluarga untuk menentukan bagaimana kita mengalokasikan pendapatan kita
setiap bulannya dan setiap tahunnya.

Mengenai fasilitas, Untuk menghitung dan mengatur keuangan ini kita memang lebih baik menggunakan aplikasi excel. karena kita akan lebih mudah pada saat menghitung dan mengadjust budget kita jika dibutuhkan. Jika fasilitas belum ada, maka kita bisa menggunakan buku tulis sebagai alternatif lain.

Jika kita ingin menggunakan aplikasi untuk menghitung budget ini agar lebih
fleksibel maka kita pun bisa menggunakan beberapa aplikasi yang bisa kita
dapatkan secara mudah di appstore. Beberapa bahkan tersedia gratis dan offline.
Hanya saja, kekurangannya adalah kita susah mengatur sesuai kebutuhan kita
dan data yang di simpan pun akan hilang jika kita menghapus aplikasi tersebut
atau saat handphone kita rusak. Saya belum menemukan aplikasi
budgeting ini yang bisa di convert ke file offline, misalnya jadi file excel, txt dsb.

Memang mengatur keuangan ini akan lebih mudah jika kita berpenghasilan tetap, misalnya sebagai karyawan, dsb. Namun, bagi anda yang wirausaha anda bisa
menggunakan historical data, yaitu data pemasukan rata-rata setiap bulan untuk
dijadikan sebagai basis budgeting keluarga.

Selain excel, yang paling penting adalah komitmen. Ya, berkomitmen untuk
mengatur keuangan berarti anda harus bisa menyishikan waktu setiap tahunnya,
bulannya dan harinya untuk mengatur keuangan Anda. Akan sangat sulit bagi
anda jika seandainya kita kurang berkomitmen dalam hal ini. Sehingga data yang
disusun menjadi bolong-bolong.

Ingat, keuangan ini hanya awal. Artinya anda bisa juga mengaplikasikan metode ini pada hal-hal lain, misalnya bagaimana anda mengatur waktu anda sehari. sebulan maupun setahun sehingga waktu anda bisa lebih produktif dan dialokasikan sesuai keinginan anda.

Manajemen keuangan keluarga ini akan bermanfaat juga bagi Anda yang
ingin mengasah kedisiplinan, mengendalikan diri dan bahkan meningkatkan kepemimpinan. Karena keuangan ini hanya sebuah angka, yang dikendalikan sebenarnya bukan cuma uang namun sikap konsumtif kita, kedisiplinan kita dan kepemimpinan kita pada diri kita sendiri. Insya Allah, ini pun bisa kita tanamkan pada anak-anak dan keluarga kita agar bisa mengatur rezeki Allah yang berupa keuangan agar lebih amanah, bijak dan bermanfaat.

Alhamdulillah kita sampai pada sesi terakhir yaitu pada bagaimana cara
kita mengatur keuangan keluarga kita.

Langkah pertama adalah DEFINE YOUR LIFE PURPOSE, mengatur keuangan,
secara filosifi adalah mengatur kehidupan. Ada prinsip yang mengatakan bahwa
uang bukan segalanya, tapi segala sesuatu perlu uang. Apa yang harus kita
analisa untuk menentukan tujuan hidup kita ini?

Coba ingat-ingat apa tujuan kita yang sebenarnya yang sebenarnya sesuai
dengan hati kecil kita? Pak Ali Zainal, seorang mentor motivasi dengan program
I’m On My Way-nya mengatakan bahwa setiap manusia pasti memiliki 1 tujuan
hidup, perhatikan : hanya 1.

Tujuan hidup inilah yang bisa kita gunakan untuk lebih bahagia dan menjadikan diri benar-benar bermanfaat. Bagaimana cara menganalisanya? Coba Anda perhatikan apa bakat Anda, passion Anda dan issue yang paling membuat anda bersemangat (misalnya pendidikan, lingkungan, politik, dsb). Nah, setelah dapat tujuan hidup ini, selanjutnya tulis dan susun apa saja kebutuhan dan berapa dana yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai referensi lain kita bisa belajar dari kebutuhan maslow, sekedar
mengingatkan yaitu :Kebutuhan fisiologi (sandang, pangan, papan), kebutuhan pada rasa aman, kebutuhan pada kasih sayang, kebutuhan pada penghargaan dan aktualisasi diri.

Secara sederhana, kita juga bisa dengan menanyakan pada diri apa yang sebenarnya ingin kita capai pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Entah itu kebutuhan konsumsi harian, perjalanan keluarga, menghajikan orang tua, membangun pesantren, memiliki koleksi pesawat misalnya, membangun apartemen, dsb.

Namun tetap lah membangun tujuan hidup ini secara SMART, yaitu Spesific,
Measurable (Bisa diukur), Achievable (Bisa diraih), Reliable (Mungkin untuk direalisasikan), dan Timely (Bisa dikonversi dengan waktu).

Sudah banyak motivator yang membahas teori-teori diatas, dimana lebih jelas, Anda bisa belajar langsung kepada masing-masing motivator.

Langkah kedua setelah menyusun tujuan hidup adalah membuat Yearly
Budgeting. Saya anggap anda sudah membuat catatan tentang apa saja tujuan
hidup anda, kapan mau mencapainya dan berapa dana yang harus disisihkan
setiap tahunnya.

Jangan lupa anda harus mempertimbangkan berapa kenaikan keuangan Anda setiap tahunnya, dan berapa angka depresiasi yang biasanya terjadi. Sebagai referensi, biasanya angka depresiasi adalah 15% setiap tahunnya, artinya barang yang Anda harus beli 1juta tahun ini akan menjadi 1.150.000 tahun berikutnya, 1.300.000 di tahun kedua atau 2.500.000 di tahun ke-10. begitu secara teori moneter. Anda bisa mengelola halaman excel untuk mensiasati depresiasi ini.

Pun, penghasilan anda. Penghasilan buat anda karyawan biasanya antara 5-10%
(hampir setengah dari depresiasi, ini mengapa secara ekonomi kehidupan sebagai
karyawan tidak efisien ­čśÇ ), tenang, ini bisa disiasati dengan mencari pekerjaan
baru dengan pendapatan yang lebih tinggi, bekerja sampingan, naik jabatan, atau
menjadi wirausaha dan jalur rezeki lainnya. Insya Allah.

Yearly Budgeting ini bisa kita atur dengan menggunakan materi akuntansi dasar
yaitu ┬ámembuat cash flow dan neraca aktiva – passiva, pun bisa hanya
dengan hitung-hitungan sederhana dengan excel. Mohon maaf karena
keterbatasan waktu belum bisa kita bahas secara detail pada kesempatan kali ini.

Selanjutnya, kita akan membuat budget bulanan dan tracking harian, sebagai contoh saya lampirkan pula untuk life purpose disini, untuk yearly budget disini, dan untuk monthly budget + daily tracking disini.

Terima kasih sudah membaca

Cara Menjadi orang BESAR


Yuk kita belajar untuk berhenti memikirkan dan membicarakan hal-hal kecil, salah satu hal-hal kecil yang sering dibicarakan itu adalah masa lalu. Kenapa? Karena membicarakan masa lalu tidak ada gunanya. Masa lalu memang berharga, tapi hanya untukmu saja. Orang lain? Hanya perlu pelajarannya, bukan ceritanya.

Apalagi jika yang dibicarakan itu adalah kesalahan, dosa dan perbuatan buruk di masalalu, udah deh, jangan dikenang-kenang lagi, apalagi dibangga-banggain. Allah akan lebih marah sama orang yang bangga dengan perbuatan seperti itu. Sudah bagus Allah menutupi aib kita, kita malah mengumbarnya, membangga-banggakannya. Na’udzubillah. Sejatinya amal buruk kita dimasa lalu itu harus kita rahasiakan dan kita sesali.

Sebagai informasi, orang gagal itu sering membahas dirinya sendiri. Dia akan menceritakan masalah-masalah pribadinya, memaparkan penyesalan-penyesalannya, mengutarakan semua perasaan dan apa yang ada dalam fikirannya. Dia begitu bangga dengan pencapaian-pencapaiannya. Bahkan, celakanya mereka kadang lupa bahwa apa yang sudah mereka dapatkan itu sejatinya adalah karunia dari Allah SWT.

Sementara itu, orang biasa seringkali membahas masalah sepele, teman-temannya saja, golongannya saja, topik yang itu-itu saja. Dia akan membahas hal yang biasa, sesuatu yang kurang bermafaat.

Yang terakhir, orang sukses atau orang BESAR akan membahas sesuatu yang lebih besar. Dia berbicara akan kemajuan sebuah negara, dia fokus pada sebuah inovasi ummat, perubahan besar, perubahan masyarakat.  Mereka Memiliki target hidup yang jelas agar lebih bermanfaat buat masyarakat. Dia memiliki cita-cita yang lebih berharga dan luar biasa. Seperti itulah orang-orang besar.

Sudah saaatnya, kita jadi orang BESAR!

Berbicara hal yang penting dan baik.

Hindari perkataan yang tidak penting, tahan diri dari perkataan yang tidak baik. Selalu menggunakan waktu nya hanya untuk pembicaraan yang efisien. Untuk sebuah pembicaraan yang penting dan baik, kita harus belajar. Orang besar akan terus menambah wawasannya, terus belajar baik dari buku, pelatihan maupun dengan berdiskusi dengan orang besar lainnya.

Untuk berbicara hal yang penting dan baik kita juga harus berteman dengan orang-orang yang berfikiran besar, mengurangi pergaulan dengan orang biasa dan orang kecil. Dengan mereka, kita harus membimbingnya.

Efisien.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang boros. Maka orang besar akan menggunakan sumber daya yang dimilikinya hanya untuk hal yang penting dan perlu.

Semua rezeki dari Allah dia gunakan dengan baik. Memastikan sesuai dengan apa yang diamanahkan Allah. Misalnya soal rezeki, Dalam rezeki kita itu ada haknya kita, ada haknya Allah dan ada juga hak keluarga dan keturunan kita.

Selalu dekat dengan Allah.

Besar di dunia tidak ada artinya kalau kita kecil dan hina di akhirat. Seorang muslim sejati, segala kemuliannya adalah karunia dari Allah SWT.

Amanah dalam perkataan dan perbuatan.

Kredibel dan reliabel, apa yang dikatakan dan dilakukan dan yang difikirkan sama.

Rajin bersedekah

Itulah ciri-ciri orang BESAR versi anwarmatlaull.wordpress.com.

Wallahu a’lam.

Lebih Banyak Orang yang Menyenangkan dalam Hidup Saya


Dan pada hari itu dia jelek-jelekin saya lagi, bilang kalau saya kepo, bilang dengan ketawa yang nyebelin, saya bingung harus gimana. Saya cuma diam, dan nulis tulisan ini, mengeluarkan amarah dengan jemari, tanpa kekerasan, tapi tidak dipendam.

Masa saya haru langsung berdiri dan bilang “maksudmu apa? saya ini memang kepo, tapi ya saya kepo soal kerjaan!” Saya pengen marah, saya pengen hantam muka dia yang nyebelin itu. Bukankah katanya itu sehat, mengaktualisasikan kemarahan itu sehat, tapi masa saya hantam kepalanya? (Tapi ternyata yang bagus itu ya aktualisasikan kemarahan ke tulisan, lalu dirobek-robek, gitu… bukan mencelakakan orang juga kali).

Kenapa ada beberapa orang yang berbuat kurang menyenangkan, apa salah saya?
Kenapa ga ada yang pedului saat saya marah? kenapa sebagian mereka bisa nahan diri saat mereka marah, kenapa saya tidak bisa? mengapa saya terus menahan marah saya? Beribu pertanyaan hadir di kepala saya disaat kalap kayak gini. Semuanya hampir gelap.

Kata AA Gym, Jangan tergantung sama orang. Biar seribu orang belain kita, biar seribu orang memuja kita, kalau menurut Allah kita hina ya hakikatnya kita tetap aja hina.  orang itu gak punya daya apa-apa. Kata Aa Gym, saat banyak masalah jangan kebanyakan mikir, gak usah kebanyakan melamun, mending dzikir aja.
semua orang di kehidupan saya adalah orang baik, semua orang sudah support saya, saya bersyukur banyak orang ngasih kepedulian juga waktu saya kecil yang justru saya lupain.

Dalam kehidupan saya sebenarnya ga ada yang pernah menyakiti saya, mereka baik, beberapa orang diberi kesempatan menguji kehidupan saya, beberapa dari mereka suka menasehati dan mengajak pada kebenaran, mereka suka berbagi dan bermanfaat buat sesamanya, Mereka sangat baik dan mendukung saya,
mereka suka tersenyum dan bahagia hidupnya, mereka adalah orang-orang terpilih dalam hidup saya. Saya bahagia bersama mereka.

Kalau boleh diingat, sebenernya lebih sedikit orang yang pernah berbuat kurang menyenangkan itu, sebutlah orang-orang ini saja.

1. Mr Pe
Pernah ada sikap yang kurang enak dari teman zaman sebelum sekolah ini, mungkin usia 4 atau 5 tahun. dan semoga Allah memberikan hidayah karena sekarang hidupnya kurang baik. Di piercing, di tato, jarang ke mesjid, terakhir jadi bahan sorotan warga saat istri barunya datang kerumahnya, dimana di rumahnya dia sedang bersama istri lamanya. Haha, jadi gosip. Semoga Allah melindungi kami dari perbuatan seperti itu, dan semoga beliau dapat petunjuk dari Allah.

2. Mr. Ip
Zaman di diniyah mungkin kelas 3 atau 4, dia ini suka menyepret setiap orang yang ngomong sepatah kata saja saat guru enggak ada. Menyalah gunakan tugas malah jadi nyakitin warga kelas. Dia punya 4 orang pengikut setia. Alhamdulillah beliau bahagia dan sudah punya anak meski katanya udah jadi duda. Gak ada rasa sakit apa-apa saat melihat wajahnya atau ingat dia dulu gimana. Biasa aja, dia hanya teman sekolah saya.

3. Mr. Il
Bebas zaman diniyah kelas 2 atau kelas 3 sama Mr. Ip, Qadarullah di kelas 6 saya ketemu Mr. Il. Yang saat itu suka main smack down sama siapa aja yang dia suka. Entah dimana dia. Dan yah, biasa ajah lah. mudah2an dia bisa belajar lebih baik dari masa itu buat lebih menyayangi sesama.

4. Mr. Y, U & Z
Ketiganya sekarang jadi ustadz. Sempet jadi teman satu kamar di pondok waktu kelas 1 Tsanawiyah. Semoga bisa jadi ustadz yang jadi tauladan. Kasur waktu tidur di tarik, di kangen-kangenin sama orang tua adalah salah satu “kisah terbesar” bersama mereka selama di pondok. Terakhir ketemu, mereka cuek sama saya, yah… mungkin ┬álupa. Hahaha.

5. Mr. F
Kawan deket kadang bisa berubah berkelakuan kurang menyenangkan. Setelah orang tuanya bangkrut di zaman dia masuk SMA, temen semasa SMP ini tidak lagi menonjol seperti dulu. Kabar terakhir dia tinggal di kampung, gagal kuliah dan entah bagaimana nasibnya sekarang.

Setelah masuk aliyah, kuliah, kerja All already going normal. Semakin kita dewasa udah jarang orang berbuat kurang menyenangkan. Karena orang udah makin egois, haha. Entah lah kenapa. Mungkin karena kita makin keren dan berwibawa, haha.

Kalau ada yang gak nyenengin, ya jauhin aja. diemin, udah. Zaman kelas 1 SMA rajin sekolah, kelas dua sempet berteman sama orang-orang di kawasan karang tengah, lalu kelas tiga sama teman-teman di tipar – cisaat, ya begitulah. ngumpul aja, sama komunitas yang seenggaknya nyaman.

Intinya sih. Ya, hanya sedikit orang yang berbuat kurang menyenangkan. Lebih banyak yang nyenengin kita, Mungkin malah lebih banyak yang kita justru kurang nyenengin buat mereka.

Selalu ada hal baik yang patut kita syukuri dalam hidup, hanya kadang kita khilaf dan syetan serta nafsu kita menutupi dari hal tersebut.

Percaya, Allah selalu memenuhi kebutuhan kita & membahagiakan kita. Allah pasti mencukupkan kebutuhan jasmani juga rohani kita. Hanya kita, bisa mensyukurinya atau tidak.